BAHAGIA & TUHAN


Buddha mengatakan bahagia bukanlah tujuan melainkan rintisan jalan kehidupan yang mesti kita jalani.

Bahagia bukanlah nanti tapi sekarang hingga selamanya, tidak didapatkan tapi dijalani.

Bahagia tidak dapat dikejar karena bahagia akan selalu berjarak, ada didepan kita, tapi jika jiwa terbuka kita bisa berjalan selaras dengan Bahagia.

Lalu, apa itu Bahagia? Bagaimana rasanya? Apakah aku akan bertanya terus sampai mati?

Pertanyaan sampai mati hanya layak diperuntukan untuk Tuhan semesta alam dan segala rahasiaNya. dan ... hati ini pun bertanya sekali lagi, apakah Tuhan dan Bahagia saling terikat?

Aku akan terus bertanya...


AKU MAU APA

Ini bulan ke.... Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember... ya Tuhan rasanya waktu jadi abu begitu saja, sudah memasuki bulan ke 8 berdiri di kaki sendiri menjadi freelancer tapi kangen juga kerja yang digaji setiap bulan karena harus bayar tagihan ini itu. Aku tahu ini semacam sinting, bukan tidak ingin lagi bekerja tapi kok setiap 5 tahun ada rasa aku harus ganti profesi.

Pokoknya bulan-bulan ke belakang diisi dengan jalan-jalan ke Bali, Singapura dan Phuket, Thailand, semacam foya-foya tapi ada misi kerjanya juga. Bangun sebelum matahari terbit, atau paling lama bangun jam 8 terus foto-foto, siap-siap sarapan, kumpulin piring-piring berisi himpunan makanan 4 Sehat 5 Sempurna lalu foto-foto lagi, mungkin orang lain yang melihat akan menganggap kami dangkal tapi kan.., this is my job!

Seru totalitas kalo apa yang aku kerjakan ini dibayar hingga 8juta/bulan, tapi nyatanya gak setiap bulan bahkan kadang rekening baru terisi dua sampai tiga bulan kemudian, umurku hampir 26 dan aku berpikir kok masih main-main? Galau masa depan yang sebenernya tidaklah perlu, it's not even exist, jadi fokus dengan masa sekarang saja dong harusnya. Jadi, fokus main-main aja dulu?

Lagi kangen air asin, dan ingin mendekorasi kamar, ingin kirim lamaran ke Dubai atau Hong Kong, masih jadi editor, iya standarisasi yang keterlaluan tinggi ini kadang bisa menjadi bencana untuk diri sendiri, setengah yakin setengah tidak. Aku kirim lamaran juga ke beberapa pekerjaan yang memesona menarik perhatian. Cari kerja itu sama kaya cari pacar, dan aku ini tipe setia sama perusahaan, sedikit merugikan sih sebenernya, karena katanya cintai pekerjaan bukan perusahaan, habis terkadang perusahaan punya ego yang besar, lebih besar dari apa yang mereka bisa berikan pada kita, bahkan ketika kita sudah memberikan segalanya.

Yes I am still craving and thirsting experiences, jadi full-time blogger alot banget ternyata kalau sudah bicara bisnis dan uang. Fashion+Travel = Double Trouble!





GAJI BUTA

Akhirnya memutuskan untuk menuliskan sesuatu lagi disini, paling tidak ini membuat saya berpikir (menggunakan fungsi otak sebagai mana mestinya) dan berpikir bahwa berpikir sendiri mengenai masalah yang datang dan disimpan sendiri begitu saja sama sekali tidak menyenangkan. Mulai dari menikmati setiap kali menenggak Vesperum*, mengendus wangi mantan manager di kantor pada hari ulang tahunnya, hingga lilung mengenai masa depan yang belum tentu akan seperti apa jadinya. Entah terlalu khawatir atau tekanan berlebihan menjadi Fashion Blogger? yang tentunya tidaklah mudah hahaha...

Tapi satu hal yang meresahkan sekarang adalah ketika komunikasi yang ada tidaklah selancar dulu, dalam hubungan apapun termasuk pekerjaan. Deadline sudah selesai, tidak ada yang wajib untuk dikerjakan lagi, jatuh sakit, partner kerja yang diliburkan setengah bulan sebagai imbalan karena sudah bekerja keras dan hadiah perkawinan yang sederhana namun sangat meleggakan, namun sepertinya aku disini lama-lama membusuk bingung sambil lagi-lagi menenggak Vesperum* dan empat pil lainnya.

Gagal dalam aplikasi kultwit #HealthySecret yang aku buat sendiri itu rasanya ingin bercermin lalu tertawa terus menangis, terus inginnya dipeluk, terus ingin marah pada dokter yang hanya sudi memberi ijin istirahat satu  hari saja. Tensi darah turun dan dia bilang aku kurang makan? All I know I feel eat like all the time.

"Kayanya aku gak akan masuk kantor lagi nih, masih demam."
-
"Emang gak apa-apa gak masuk terus? Dokternya ngasih ijin istirahat berapa hari?
-
"Satu hari sih, tapi kan yang lemes aku bukan dokternya"
-
"Iya kalo orang kantor nyariin gimana, kamu Seninnya kan udah gak masuk"
-
"Ya terus sakit begini gimana? Tapi iya sih mungkin aku sakit gini harus banget publish Video di Youtube biar pada gak curiga"
-
"Saran aku sih kamu masuk aja, kalo sedandainya gak kuat bisa minta ijin pulang, beres kan orang kantor juga pasti ngerti"
-
"Hmmm iya deh gitu aja"
-
"Tapi kamu yakin kuat"
-
"Ya dicobain aja"

Ya begitulah walau sudah tidak ada yang mesti dikerjakan dan masih dalam keadaan mual sepanjang jalan, tapi ada kewajiban yang masih harus ditunaikan. Tapi lama-lama ada sekelebat pikiran bahwa salah satu faktor yang menimbulkan kemualan ini adalah saking sudah lamanya tidak berbuat apa-apa, dan atau otak yang diberkahi oleh Tuhan ini tidak difungsikan selayaknya? atau yang kata orang disebut Gaji Buta?

Ah ya sudahlah, aku masih bersyukur masih bisa menuliskannya disini dan dalam hal ini tentunya otakku aku pakai sedikit untuk bekerja.



*Vesperum: Obat mual-mual atas anjuran Dokter

SELAMAT LEBARAN DARI BALIK JERUJI



"Ahmad, ini ada surat untukmu.", suara pak sipir tegas mengangetkanku ketika aku sedang berdzikir.

Aku buka surat itu, hanya ada beberapa baris kata saja disitu, tapi itu membuatku bersyukur atas hidup ini
"Ahmad bagaimana keadaanmu disana? sudah tahun kesepuluh kau berpuasa sendiri, Nurul juga kangen ingin bertemu denganmu mad. Semoga orang-orang disana memperlakukanmu dengan baik"

Lalu aku tersenyum, terima kasih ibu, seraya menulis surat balasan, air mata ku jatuh tak tertahankan lagi.

Aku adalah seorang laki-laki berumur 35 tahun yang divonis bersalah karena dituduh membunuh majikanku di Jakarta, sementara aku meniggalkan ibu dan anakku di Jember. 15 tahun penjara bukanlah waktu yang sebentar, bagiku banyak yang telah aku lewatkan, melihat anak gadisku satu-satunya, Nurul, tumbuh dewasa dan kesempatan berbakti lebih kepada ibu yang harus terhalang jeruji besi disini. Istriku pergi meninggalkanku dan anak kami, setelah merasa tidak tahan dengan sikapku yang brutal dan terkesan tidak bertanggung jawab, belum lagi Nurul, ia lahir dalam keadaan cacat kaki permanen. Hal itu menjadi titik balik bagi hidupku. Aku ingat ketika ibuku memintaku membantunya membeli beras dan sayur di pasar, lalu uangnya malah aku pakai untuk berjudi, hari itu ia tidak makan apapun. Hal itu terjadi berulang-ulang, aku heran, aku merasa bersalah tapi keinginanku untuk berjudi tidak kalah besar, lalu aku bertanya mengapa ia selalu memintaku membeli sesuatu kalau akhirnya uang itu akan aku pakai untuk berjudi, ia hanya berkata, "kau anakku yang ku sayang Ahmad, aku percaya padamu dan suatu saat kau akan sadar", semenjak saat itu aku berhenti memakai uang ibuku untuk berjudi, tapi aku merampok. Mungkin tidak ada dosa yang aku lewatkan, bahkan karena hal ini pun aku sepertinya telah membunuh ayahku secara perlahan. Merampok, berjudi, mabuk-mabukan, hingga akhirnya aku menghamili wanita yang telah meninggalkan aku dan Nurul. Namanya Yanti dan aku mencintainya. Aku hanya berdoa semoga dia bisa bahagia.

Tinggalah aku, ibuku dan Nurul, aku tidak bisa seperti ini terus, lalu aku memutuskan untuk mencari kerja di Jakarta. Belum sampai 1 tahun, terjadilah musibah ini, aku difitnah membunuh kedua majikanku dan merampok semua hartanya, catatan kejahatanku sebelumnya justru memperparah keadaan, aku tidak bersalah dan harus tabah menerima 15 tahun kurungan penjara. Aku terima.

Sudah hampir 10 tahun aku tidak bertemu dengan ibu dan anakku, dan entah mengapa aku ingin sekali bertemu mereka lebih dari apapun. Pikirku, lebih baik aku mengambil air wudhu. Akhirnya aku bersimpuh dan sekali lagi berserah kepada Tuhan yang maha kuasa. Aku menangis dalam sujudku.

"Ahmad, sepertinya ada yang mengunjungimu", nada suara pak sipir yang sangat tegas terasa pudar, mungkin ia terharu setelah hampir 10 tahun, kini ada yang mengunjungiku, namun aku pun heran. Aku melihat sosok tua yang cemas dan anak gadis yang ketakutan, "Masya Allah, ibu, Nurul", tubuhku gemetaran dan kakiku terasa sangat lemah, aku berlutut sambil memeluk mereka. Mereka datang ke Jakarta berkat bantuan tetangga kami di Jember, "iya nak, ibu dan Nurul ikut mobil pak Rahman, kebetulan dia mau kirim barang ke Jakarta, ibu dan Nurul akan ikut pulang dengan mobil itu lagi besok lusa setelah merayakan lebaran denganmu disini", ya Tuhan, aku tidak tega mendengarnya, membayangkan mereka duduk di mobil dengan kap terbuka yang biasa dipakai untuk mengangkut barang, aku tidak berani menanyakannya, ku cium kedua tangan mereka.

Aku berlari kedalam bilik penjaraku, mengambil sebotol besar air dan wadah, lalu aku berdoa, sudah lama aku ingin melakukan ini. Sekali lagi aku berlutut didepan ibuku, melepaskan sendalnya, aku melihat kedua kakinya, tersirat beban hidup yang teramat sangat dan aku memohon ampun. Aku meletakan kakinya dalam wadah, berdoa, membasuhnya dengan air, berdoa, lalu aku mencium kakinya, aku merasakan surga, mohon ampun ya Allah, mohon ampun ibu, tak sengaja air itu bercampur dengan air mataku. Walaupun lebaran jatuhnya esok hari, aku tidak bisa menunda ini, aku ambil air ditelapak tanganku dan membasuhkannya ke wajah Nurul, "kamu harus tabah ya nak, kamu harus kuat dan jaga dengan baik nenekmu", aku merasakan pelukkan hangatnya.

"Sudah sedihnya, kita harus tersenyum dan gembira karena masih bisa berkumpul, besok kita merayakan hari kemenangan, nanti ibu dan Nurul kembali lagi besok ya mad, nikmatilah takbir yang menggema malam ini", ibu menggendong Nurul di punggungnya, kakinya lunglay, mereka pun hilang dalam kejauhan, aku tersenyum. Terima kasih ya Allah

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un",
"Ibu, ahmad meninggal sekitar tadi malam, dokter mengatakan serangan jantung, saya menemukan surat ini dibawah bantalnya, sepertinya ini surat dari ibu untuknya waktu itu"

Lalu dia buka surat itu, ada balasan dibawahnya,
"Ibu dan Nurul yang tercinta, alhamdulillah Ahmad disini baik-baik saja, Ahmad juga kangen bu, tapi ahmad tidak sendiri disini, ada Allah, banyak Malaikat yang menemani, walau ibu dan Nurul jauh disana, tapi rasa sayang dan cinta kasih kalian terasa sampai disini bu, dihati Ahmad, terima kasih bu, Ahmad mohon ampun, semoga ibu dan Nurul disana akan selalu baik-baik saja, selamat puasa bu, selamat lebaran"

ibu hanya diam, menangis, lalu tersenyum, "alhamdulillah" ia berucap.

Gambar Via http://padang-today.com/up/berita/27042011191952PENJARA.jpg

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN



KENAPA HARUS BROWNIES?



Pagi-pagi buta joni udah siap jemput cewenya, sebut saja namanya Mawar, (Reportase Investigasi, ini acara bikin takut jajan ya ngomong2, segala pake borak segala pake balsem), ya sudah by the way namanya bukan mawar, tapi Amanda. Joni emang tipe pacar welas asih kalo cewenya butuh bantuan, pagi-pagi buta itu ya sekitar jam 10 pagi, Amanda minta anter beli brownies

Amanda menghubungi Joni lewat telepon genggam.... tutttt..tutttt..tutttttt...

Amanda: "Hallo Say, anterin aku beli beli brownies dong, yah yah yah aku tunggu dirumah 1 jam lagi"

Joni: "Masya Allah, bukannya ditanya udah bangun belom, udah mandi belom, udah BAB belom, ini malah langsung nodong gitu aja, kamu gak romantis ah"

Amanda: "iya iya maaf hihihhi, ya udah kamu udah BAB belum? hihihihi"

Joni: "ya ilah malah nanya itu sih kamu mah"

Amanda: "Perasaan tadi kamu yang minta ditanyain gitu dehhhh, lagian pasti kamu udah bangun kan, mandi juga udah soalnya wanginya sampe sini sih" #eaaa #malahngegombal

Joni: "Ya udah tunggu bentar ya, 2 jam deh yayayaya"

Amanda: "Alah rumah sebelahan juga pake 2 jam, apa perlu sini aku mandiin"

Joni: "Ya udah sini mandiin" *suara manja

Amanda: "Aku mandiin pake cinta aja ya, UDAH BURUAN MANDI" *Amanda nekat teriak dari Balkon

1 jam kemudian...

Amanda: "Makasih ya udah anterin aku beli brownies-nya, sekarang kamu pulang gih!"

Joni: "ih gitu amat ya, udah dianterin malah diusir pulang"

Amanda: "lah kan kamu harus kuliah, kamu mau ya matakuliah Manajemen Syariah gak lulus lagi"

Joni: "oh iya lupa masih kuliah, pulang kuliah aku kesini lagi deh ya"

Amanda: "iyaaaaaaaaaaaaaa"

Sehabis pulang kuliah...

karena joni sudah dekat dengan keluarga Amanda, jadi joni bebas keluar masuk rumah Amanda, Joni berjalan masuk ke kamar Amanda, tapi sepertinya Amanda gak ada ditempat, Joni teriak-teriak memanggil Amanda pun sepertinya tidak ada sautan, tanpa ambil pusing Joni berniat menunggu dalam kamar saja. Sambil duduk-duduk di sofa dan menonton acara televisi. oni melihat seonggok dua onggok brownies diatas meja, lapar yang menerpa membuat Joni sejenak melupakan Amanda, Joni melahap segigit brownies, dua gigit, dan habis, lalu datanglah Amanda, jeng jeng

Amanda: "eh kamu udah ada disini aja"

Joni: "iya lumayan 5 menit lalu, kamu dari mana emang?"

Amanda: "Abis dari gudang tadi, terus cuci tang... eh tunggu bentar"

Amanda sibuk keliling kamar sembari seperti mencari sesuatu, lalu Joni bertanya

Joni: "Kamu ngapain? nyariin apa sih sibuk banget padahal aku udah disini"

Amanda: "Nyari tikus"

Joni: "Nyari tikus??? buat apaan, emang tadi ada tikus?"

Amanda: "Iya ada, sekarang sih harusnya udah mati, soalnya umpannya udah abis dimakan, makanya ini sekarang aku lagi cari bangkainya say"

Joni: "Emang kamu kasih umpan apaan?"

Amanda: "itu brownies di atas meja, yang kita beli tadi pagi, udah aku taburi racun arsenik level 10, dijamin manjur, mematikan dalam 2 menit 15 detik"

Joni: OH #kemudianhening #kemundianpingsan 


Lesson Learned: Komunikasi itu penting #Wassalam





HERDI HERDI

Sebelum tulisan ini dibuat di tanggal 27 Agustus 2012, ada tulisan lain yang barusan saja aku hapus - tulisan yang aku buat di tanggal 22 Agustus 2011, entah itu salah satu caraku berubah pikiran atau memang semuanya butuh proses. Proses melakukan kesalahan dan akhirnya menemukan yang sesuai, sesuatu yang aku rasa benar.
Ya paling tidak, benar menurutku, tidak seperti blog sebelah yang isinya melulu kebanyakan tentang fashion, posting visual dan tertulis dalam bahasa inggris, aku merasa haus untuk menyalurkan pemikiranku tentang hidup yang aku jalani ini dalam bahasa Indonesia, ya entahlah mungkin tahun depan sudah akan berubah lagi, tapi itulah bagusnya, hidupku yang aku rasa cukup tidak menentu atau kata bagusnya, Hidup yang Dinamis.
Setelah ini, mungkin kamu akan tahu lebih banyak